Latest Audio :
Recent Movies

Aqidah Sebagai Inti Ajaran Para Nabi dan Rasul

Aqidah Sebagai Landasan Amal

Hak Allah Atas Para Hamba-Nya

Untuk Apa Kita Diciptakan?

Berebut Seekor Bangkai

http://www.youtube.com/watch?v=_Fes6TfzuPEendofvid

Membawa Ember yang Bocor

http://www.youtube.com/watch?v=C2YSTU4Za3sendofvid

MEMBAWA EMBER YANG BOCOR
Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh
Segala puji kita tujukan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Pemilik langit dan bumi, Yang Maha Kuasa memelihara setiap urusan di dalamnya. Shalawat dan Salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Allah, Muhammad Shalalllahu Alaihi wa Sallam. Keluarga, sahabat, tabi’in, beserta seluruh umat yang memegang teguh Sunnahnya hingga Hari Kiamat kelak. Semoga kita tergolong orang-orang yang mendapat naungan dan syafa’at. Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan kepada saya untuk hadir langsung ke dalam kajian beliau, setelah beberapa kali hanya bisa menyimak lewat youtube. Semoga Allah selalu memberikan berkah dan keselamatan kepada beliau. Tema kajian ini sangat penting, bagus dan beliau sampaikan dengan sangat jelas, yaitu “Membawa ember yang bocor”. Apa maksud tema ini? Jadi di hari kiamat kelak, akan ada golongan orang-orang yang membawa amalan sebesar gunung uhud, namun di hadapan Allah, amalan tersebut hilang begitu saja, karena amalan tersebut ia bawa dengan wadah yang ternyata bocor. Apa kiranya yang membuat wadah itu bocor (tidak terima Allah)? Ada dua syarat yang membuat sebuah amalan diterima, yaitu:
  1. Ikhlas
  • Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah denganmengikhlaskan ibadah kepada-Nya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mereka mendirikan shalat serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah Agama yang benar” (QS. Al-Bayyinah:5)
  • “Allah tidak menerima amalan kecuali dikerjakan dengan ikhlas dan hanya mencari ridla-Nya.”(HR. Al-Nasâ`i).
  1. Ittiba’ (Sesuai yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat)
  • Umar bin Khattab pernah mengatakan,  “Siapa yang beribadah tanpa disertai ilmunya, maka ibadahnya tertolak dan tidak diterima.”
  • “Barangsiapa yang mengadakan sesuatu dalam perkara kami ini yang tidak ada tuntunan (Islam) di dalamnya maka ditolak.” (Muttafaq ‘alayh)
  • “Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah Kitabullah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik bimbingan, adalah bimbingan Muhammad, sedang sejelek-jelek perkara adalah mengada-ada padanya, dan setiap bid`ah (penyimpangan dengan mengada-ada) adalah sesat.” (HR. Muslim, Ibn Majah, Ahmad & Darimi).
  • “Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunnah para khalifah ar-rasyidin (yang diberi petunjuk) sesudahku, gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah dari setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Jika salah satu dari dua syarat tidak dipenuhi, maka sebagus apapun niat dan ibadah kita, tidak akan sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita berlindung kepada Allah dari semua ibadah yang tertolak. Semua ilmu akan menjadi debu, kecuali yang diamalkan. Semua amalan akan menjadi debu, kecuali amalan yang ikhlas. Sebagai evaluasi dari keberjalanan hidup kita, mari kita periksa lagi seluruh amalan-amalan kita, apakah sudah mencakup kedua syarat di atas? Jangan cuma berfokus pada banyaknya amalan, tapi kita juga harus memeriksa ember kita, apakah bocor apa tidak. Jika selama ini ada salah satu syarat yang belum terpenuhi, maka hendaknya kita bertaubat dan memohon ampunan Allah. Dan berusaha keras untuk lebih ikhlas dan mencari ilmu yang benar. Bahaya Hati yang tidak ikhlas
  1. Amalnya tidak diterima
  • Sudah dijelaskan di atas
  1. Mati dalam kondisi Su’ul Khotimah
  2. Hatinya penuh iri dan dengki
  • Tidak suka jika ada orang lain yang lebih sholeh atau berilmu darinya.
  1. Jadi koreknya api neraka
  • Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, “ sesungguhnya manusia pertama yang akan diputusi pada hari kiamat nanti ialah orang yang mati syahid. Setelah ia didatangkan dan diperkenalkan nikmat – nikmatnya dan ia pun mengenalinya, Allah bertanya, ’Apa yang telah kamu lakukan terhadap nikmat – nikmat itu?’ ia menjawab, ‘ aku telah berperang demi engkau hingga aku mati syahid.’ Allah menyangkal.  ‘ kamu dusta. Tetapi, kamu berperang supaya kamu disebut pemberani.’ Konon Allah lalu menyuruh malaikat menyeret wajahnya untuk dilemparkan ke neraka.
  • Selanjutnya ialah seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada orang serta rajin membaca Al – Qur’an. Setelah ia didatangkan dan diperkenalkan nikmat – nikmat dan ia pun mengenalinya, Allah bertanya, ‘ apa yang kamu lakukan terhadap nikmat – nikmat itu?’ ia menjawab, ‘ aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain serta rajin membaca Al – Qur’an adalah demi engkau.’ Allah menyangkal, ‘ kamu dusta. Tetapi, kamu mempelajari ilmu supaya disebut ulama, dan rajin membaca Al – Qur’an supaya disebut qari.’ Konon Allah memerintahkan malaikat menyeret wajahnya untuk dilemparkan ke neraka.
  • Selanjutnya adalah seseorang yang diberi oleh Allah kelapangan rezeki dari berbagai macam harta. Setelah ia didatangkan dan diperkenalkan nikmat – nikmatnya dan ia pun mengenalinya, Allah bertanya, ‘ apa yang telah kamu lakukan terhadap nikmat – nikmat itu?’ ia menjawab, ‘ begitu ada kesempatan untuk menafkahkan harta pada jalan engkau sukai, aku pasti tidak melewatkannya untuk menafkahkan harta-Ku pada jalan-Mu.’ Allah menyangkal,’ kamu dusta. Tetapi, kamu melakukan itu supaya disebut orang yang dermawan.’ Konon Allah lalu menyuruh malaikat menyeret wajahnya untuk dilemparkan ke neraka.”
  • Subhanallah, hadits di atas merupakan peringatan nyata bagi kita, bahwa tidak ada jaminan saat kita merasa amalan kita sudah banyak kita akan dimasukkan ke dalam surga. Justru orang2 yang banyak amalannya namun tidak ikhlas, merekalah yang akan menjadi koreknya api neraka (pertama kali masuk neraka). Semoga kita tidak tergolong di dalamnya.
Tanda-Tanda Hati yang Ikhlas
  1. Suka menyembunyikan amalan, menjauhi tempat-tempat yang mendatangkan pujian
  • Cari cerita tentang Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib
  1. Selalu menuduh diri sendiri dengan kurangnya kebaikan/keikhlasan
  2. Tidak merasa iri, riya’, ataupun hasad
  3. Tidak mencari balasan manusia dari kebaikannya
  4. Tidak mengharap pujian, tidak tertipu sanjungan
  5. Mengakui keutamaan orang lain, tidak pelit dalam memberi pujian
  • Para ulama zaman dahulu seperti Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad adalah contoh konkrit dimana mereka saling menyanjung kebaikan dan keutamaan atas ilmu dan akhlaq yang mereka miliki. Jika ada kekurangan, mereka saling menasehati, dan sangat lapang untuk diberi nasehat. Tidak seperti sekarang yang kadang saling menghujat dan mengkafirkan.
  1. Tidak ada urusan dengan kedudukan di dunia
  2. Sikapnya sama, baik dalam kondisi sendiri maupun di hadapan orang banyak
  3. Menyempurnakan tugas dan kewajiban walaupun tidak dalam pengawasan
  4. Siap dikritisi
  5. Ridlo dan amalannya bukan buat dia
  6. Diberi maupun tidak diberi, tidak merubah sikapnya
Menuju puncak keikhlasan merupakan perkara yang sangat susah, salah satu hal yang sederhana yang bisa kita lakukakan adalah menyembunyikan amalan-amalan kita dari penglihatan orang lain. Berusaha perbaiki niat sebelum beramal, dan segera melupakan setelahnya. Semoga kita tidak tergolong ke dalam orang-orang yang membawa ‘ember yang bocor’. Semoga apa yang tertulis disini tidak ada kesalahan dan mohon koreksi bila ada yang menemukan. Apa yang benar datang dari Allah Azza wa Jalla, sedangkan kesalahan datang dari keterbatasan ilmu penulis dan tipu daya syaithan laknatullah.
Wallahu a’lam bishshawab
Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SYIAR SUNNAH - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger